Petani Kakao Desa Devisa di Jembrana Kembali Ekspor di Bantu LPEI

  • VivaNews
  • Feb 01, 2022
Petani Kakao Desa Devisa di Jembrana Kembali Ekspor di Bantu LPEI

Desa devisa merupakan salah satu program yang dimiliki oleh LPEI yang berbasis pemberdayaan manusia, untuk meningkatkan komoditas produk unggulan yang ada wilaya tertentu. Banyak wilayah yang sudah dijadikan tempat desa devisa karena memiliki produk unggulan yang berorientasi ekspor, dengan adanya program desa devisa membuat para petani mendapatkan banyak ilmu dan manfaat ketika ingin melakukan ekspor dan lain sebagainya. Di tengah kondisi pandemi yang masih kurang stabil sekarang ini desa devisa di Jembrana yang memproduksi biji kakao kembali mengekspor 12 ton biji kakaro fermentasi organik ke den haag. Para petani yang tergabung dengan koperasi kertas semaya samaniya.

Keberhasilan yang didapatkan tidak terlepas dari bantuan yang sudah diberikan oleh LPEI untuk mengembangkan produk unggulan yang dimiliki wilayah tersebut. Karena dengan program desa devisa yang sudah LPEI lakukan di wilayah tersebut membuat biji kakao bias di ekspor bahkan sekarang sudah bisa ekspor mandiri tanpa harus melalui pihak ketiga. Dalam kondisi sekarang ini koperasi KSS sempat mengalami kesulitan untuk mengirim sampel produk kakao ke negara tujuan, kendala tersebut diakibatkan berhentinya bisnis buyer di Eropa, kesulitan dan kendala saat memenuhi proses administrasi dan pemeriksaan dokmu dan produk. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah yang terjadi LPEI sebagai SMV bersinergi dengan Bea Cukai Denpasar.

Seperti yang dikatakan Corporate secretary dari LPEI bahwa dalam hal ini. LPEI memahami akan kesulitan yang sedang di alami KSS dalam menjalankan ekspor saat dalam kondisi saat ini, oleh karena itu LPEI membantu para petani kakao untuk mengatasi masalah yang sedang di hadapi, dan akhirnya masalah tersebut bisa diatasi setelah berkoordinasi dengan pihak bea cukai bahkan sudah bisa melakukan ekspor secara mandiri lagi. Meskipun sudah tidak seperti saat sedang melakukan program desa devisa namun LPEI tetap memantau perkembangan yang terjadi dari wilayah yang sudah pernah melakukan desa devisa. Meskipun sedang masa pandemi jasa konsultasi yang diberikan LPEI tetap melakukan pendampingan secara intensif .

Saat masa pandemi seperti sekarang ini membuat semua pesanan ekspor harus terpaksa ditunda atau memang sepinya pesanan karena kondisi yang kurang baik untuk melalukan proses ekspor. Bahkan jika ada yang memesan pun pasti akan ada banyak kendala saat sedang proses pengiriman terjadi, seperti pemeriksaan produk, masalah administrasi, atau lainnya karena pandemi sekarang membuat sebagian peraturan di negara lain semakin diperketat. Oleh karena itu adanya kegiatan pendampingan agar bisa musyawarah bersama membahas solusi untuk masalah yang terjadi sekarang ini. ketika ada kendala maka dengan adanya LPEI mereka bisa membantu kendala yang sedang di hadapi dalam wilayah desa devisa mereka, entah maslah ekspor atau lainnya.

Sebelum adanya Covid-19 ekspor biji kakao sangat meningkat dan banyak dikirim ke berbagai negara dengan nilai yang berbeda-beda membuat para petani kakao bisa mendapatkan hasil ekonomi sosial secara nyata dengan adanya ekspor yang rutin dan selalu lancar, bahkan saat sebelum pandemi pengiriman biji kakao mencapai hingga 8 ton. Berbeda dengan saat adanya pandemi membuat semua para petani susah dan mendapatkan banyak kendala saat ekspor terjadi. Koperasi KSS kehilangan PO dari 3 buyer luar negeri karena berhentinya bisnis para buyer berdampak pada ekspor biji kako juga. Namun dalam kondisi sekarang sudah lumayan terkendali dan bisa mendapatkan kembali buyer yang berpotensial.